Jumat, 25 Januari 2013

modul psikologi eksperimen

PSIKOLOGI EKSPERIMEN

 

 

 

 

Disusun oleh

Aribowo Abdurrahman, SPsi, Psi

beserta

Team Dosen Universitas Azzahra

 

 

 

 

 

 

 

 

Jakarta 2010

 

 



 

 


PSIKOLOGI EXPERIMEN

Materi :

 

1.           Sejarah Psikologi Experimen

2.           Hubungan Psikologi Eksperimen dan Psikologi lainnya

3.           Pendekatan Psikologi Eksperimen

4.           Contoh penelitian eksperimen (tugas mahasiswa)

5.           Tahapan Penelitian eksperimen

6.           Metode Observasi dalam Psikologi Eksperimen

7.           Focus Group Discussion

8.           Quasi Experiment

9.           Kontrol dalam metode Experimen

10.       Desain/Rancangan Experiment

11.       Integrasi rancangan penelitian dalam Pekerjaan Psikolog (Etika)

12.       Tugas Final Individual Desain Rancangan Experiment

 

 

Sejarah Psikologi Experimen

 

Psikologi Eksperimen adalah cabang Psikologi yang mengkaji proses sensing, perceiving, learning, and thinking about the world.


Dalam konteks positivisme, atau empiricism, pengamatan/observasi atas proses-proses itu dilakukan dengan metode eksperimen sebagai a method or logic inquiry yang diandalkan untuk merinci (description), menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan mengendalikan (control) secara semakin akurat/precise proses-proses itu sendiri sebagai realitas.


Realitas-realitas yang saling berasosisasi, bahkan dipercaya/belief memuat the notion of determinism, bahwa perilaku pastilah bersebab, atau memliki determinan. Hanya saja realitas di sini dan sekarang (here and now) tidak dimengerti dengan pendekatan-pendekatan tenacity, intuition, authority, bahkan tidak dengan rationalism, tetapi sekali lagi dengan metode eksperimen.

Jadi Psikologi Eksperimen bukan metode eksperimen itu sendiri, walau metode ini adalah satu-satunya andalannya, tetapi pertama-tama tetaplah acquiring knowledge about psychological realities.

 

Metode eksperimen hanyalah more acceptable means karena alat/ means ini menjamin objective observation, yaitu pengamatan yang independent of opinion or bias. Perlu diingat, yang dimaksud dengan metode eksperimen di sini adalah suatu methodology (yang memuat urutan unsur-unsur logic of inquiry mulai dari unsur identify problem and form hypothesis, unsur design experiment, unsur conduct experiment, unsur test hypothesis, sampai dengan unsur write reasearch report), bukan techniques, yang sebenarnya hanyalah specific manners in which scientif method is implemented.



Dalam konteks positivisme, masih ada metode-metode lain selain metode eksperimen, yaitu metode deskriptif, yang bermaksud menyelenggarakan deskripsi atau gambaran tentang suatu situasi, kejadian, atau kumpulan kejadian secara khusus/ partikular. Termasuk ke dalam metode deskriptif adalah naturalistic observation, secondary records, dan field studies yang terdiri atas setidaknya 4 metode: participant observation, survey (survey, correlational studies, longitudinal and cross-sectional studies), ex post facto studies, dan meta analyisis.

Tentu, metode eksperimen adalah terbaik, sejauh menjadi metode yang mampu menjamin bisa diketahuinya hubungan/asosiasi sebab-akibat di antara realitas-realitas.
Tidak berarti metode eksperimen tidak memiliki kekurangannya. Kekurangannya adalah, karena cenderung dilakukan di labolatorium, maka hasilnya sangat exclusive, dalam arti hanya bisa dibenarkan (dilegitimasikan) untuk ekesperimen itu saja. Diragukan bisa digunakan hasilnya untuk populasi yang lebih besar.

Ada masalah besar dalam hal external validity. Agar terjadi external validity, oerlu diusahakan kehadiran: population validity, ecological validity, dan temporal validity. Tentu perlu diingat adanya inverse relationship antara internal validity dan external validity: bila validitas eksternal meningkat, validitas internal cenderung terkurbankan, begitu sebaliknya.


Metode sebagai alat adalah memang salah satu bagian integral keilmiahan. Tetapi yang paling penting untuk integritas kebenaran ilmu adalah sikap ilmiah ilmuwannya sendiri, untuk senantiasa menjaga diri agar tetap memiliki: curiosity, patience, objectivity, dan change.

 

 

Hubungan Psikologi Eksperimen dan Psikologi lainnya

 

Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia memiliki kajian yang sulit untuk diteliti secara langsung. Oleh karena itu banyak ahli mencoba mendalaminya dengan melakukan penelitian baik secara eksperimental maupun di lapangan.

Psikologi eksperimen berusaha mempelajari dasar-dasar eksperimen maupun teori-teorinya dengan mengacu pada penelitian yang dilakukan sebelumnya maupun pengembangannya. Diharapkan mahasiswa psikologi dapat menerapkan ilmu yang diterima di ruang kuliah dalam laboratorium secara sederhana.

Tujuan

·        Memberikan gambaran-gambaran melalui contoh-contoh eksperimen yang telah dilakukan oleh para ahli.

·        Memberi dasar teori ekperimen dalam psikologi

·        Mahasiswa dapat melakukan eksperimen di laboratorium secara sederhana.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendekatan Psikologi Eksperimen

 

Ada beberapa jenis penelitian yang didasarkan pada rancangan yang digunakan untuk memperoleh data, misalnya penelitian korelasional, kausal-komparatif, eksperimen, dan penelitian tindakan (action research).

Penelitian Korelasional  (correlational research)

          Tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi.

Contoh penelitian korelasional yang umum dilakukan:

a.       Studi yang mempelajari hubungan antara skor pada test masuk perguruan tinggi dengan indeks prestasi semester pada mahasiswa STIKes di Wilayah Jawa Barat.

b.       Studi analisis faktor mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan, pendidikan, dan status sosial dengan pemilihan jenis persalinan di desa tertinggal.

 

Penelitian Kausal-Komparatif (causal-comparative research)

          Tujuan penelitian kausal-komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.

          Penelitian kausal-komperatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat sebagai "dependent variable" dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.

         

          Penelitian Eksperimental-Sungguhan (true-experimental research)

          Tujuan penelitian eksperimental sungguhan adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental dengan satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.

Ciri utama dari penelitian eksperimen meliputi: 

a.         Pengaturan variabel-variabel dan kondisi-kondisi eksperimental secara tertib-ketat, baik dengan kontrol atau manipulasi langsung maupun dengan randomisasi (pengaturan secara rambang).

b.         Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai "garis dasar" untuk dibandingkan dengan kelompok (kelompok-kelompok) yang dikenai perlakuan eksperimental.

c.          Memusatkan usaha pada pengontrolan varians dengan cara: pemilihan subyek secara acak, penempatan subyek dalam kelompok-kelompok secara rambang, dan penentuan perlakuan eksperimental kepada kelompok secara rambang.

d.         Validitas internal merupakan tujuan pertama metode eksperimental.

e.          Tujuan ke dua metode eksperimental adalah validitas eksternal.

f.           Dalam rancangan eksperimental yang klasik, semua variabel penting diusahakan agar konstan kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

 

Penelitian Eksperimental-Semu (quasi-experimental research)

          Tujuan penelitian eksperimental-semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Si peneliti harus dengan jelas mengerti kompromi apa yang ada pada validitas internal dan validiti eksternal rancangannya dan berbuat sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut.

Ciri penelitian eksperimen semu meliputi:

a.       Penelitian eksperimental-semu secara khas mengenai keadaan praktis, yang di dalamnya adalah tidak mungkin untuk mengontrol semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabel tersebut.

b.       Subyek penelitian adalah manusia, misalnya dalam mengukur aspek minat, sikap, dan perilaku.

c.  Tetap dilakukan randomisasi untuk sampel, sehingga validitas internal masih dapat dijaga.

 

Penelitian Tindakan (action research)

          Penelitian tindakan bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain.

Contoh penelitian tindakan misalnya adalah:

a.  Penelitian tentang pelaksanaan suatu program inservice training untuk melatih para konselor bekerja dengan anak putus sekolah;

b. Penelitian untuk menyusun program penjajagan dalam pencegahan kecelakaan pada pendidikan pengemudi;

c. Penelitian untuk memecahkan masalah apatisme dalam penggunaan teknologi modern atau metode menanam padi yang inovatif.

Ciri penelitian tindakan adalah:

a.       Praktis dan langsung relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja.

b.       Menyediakan rangka-kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan baru.

c.        Penelitian  mendasarkan diri kepada observasi aktual dan data mengenai tingkah laku, dan tidak berdasar pada pendapat subyektif yang didasarkan pada pengalaman masa lampau.

d.       Fleksibel dan adaptif, membolehkan perubahan selama masa penelitiannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan on-the spot experimentation dan inovasi.

Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda.

Contoh penelitian eksperimen (tugas mahasiswa)

 

eksperimen untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.

Apakah perlu kelompok pembanding? Marilah kita renungkan jawaban ini. Di dalam proses yang disebabkan oleh satu macam tindakan/ perlakuan, kita tidak pernah dapat menyatakan bahwa tindakan dan proses itu menghasilkan sesuatu yang lebih baik, kurang baik, dan kita baru dapat menyatakan kalau sudah dibandingkan dengan yang lain. Dari suatu tindakan kita hanya dapat menyatakan bahwa proses ini begini dan begitu itu akan menimbulkan gejala yang begini atau begitu. Gejala itu baru dapat dikatakan lebih baik jika gejala lain menjadi ukuran sebagai pembanding. Oleh karena itu dalam suatu eksperimen ilmiah dituntut sedikitnya dua kelompok, yang satu ditugaskan sebagai kelompok pembanding (control group), sedang kelompok yang satu lagi sebagai kelompok yang dibandingkan (experimental group).

Bagaimana cara melaksanakan jenis penelitian eksperimen ini ? Untuk melaksanakan suatu eksperimen yang baik, kita perlu memahami terlebih dahulu segala sesuatu yang berkaitan dengan komponen-komponen eksperimen. Baik yang berkaitan dengan pola-pola eksperimen (design experimental), maupun penentuan kelompok eksperimen dan kontrol, bagaimana kondisi kedua kelompok sebelum eksperimen dilaksanakan, cara pelaksanaannya, kesesatan-kesesatan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen, cara pengumpulan data, dan teknik analisis statistik yang tepat digunakan. Hal itu semua, para guru dapat mempelajari, mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan penelitian itu, tanpa meninggalkan tugas sehari-hari di kelas.

 

Tahapan Penelitian eksperimen

Marilah kita mempersiapkan penelitian eksperimen secara baik. Sebelum peneliti melaksanakan treatment/perlakuan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Sebagai ilustrasi seorang guru akan mengadakan percobaan tentang keampuhan dua metode mengajar dalam bidang Matematika, Mana di antara dua macam metode yang dapat memberikan prestasi belajar yang lebih baik (metode pemahaman konsep atau metode pemecahan soal). Hal ini disebabkan karena selama ini ditemukan oleh guru bahwa penggunaan metode pemahaman konsep yang dilakukan menyebabkan prestasi belajar siswanya belum menggembirakan.
1. Langkah awal dijumpai ada problem terhadap prestasi belajar matematika yang selama ini diajarkan melalui metode pemahaman konsep. Seorang guru matematika sewaktu mengikuti diklat mendapatkan
metode baru yaitu metode pemecahan soal", kemudian muncul pertanyaan: manakah di antara dua metode pembelajaran Matematika yang dapat menumbuhkan prestasi belajar lebih baik?

2. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah metode pemecahan soal lebih baik dalam mengembangkan kecakapan matematika dibandingkan dengan pemahaman konsep (untuk mengetahui pengaruh metode pemecahan soal terhadap prestasi belajar matematika). Guru juga dapat mengetahui sikap siswa terhadap metode pembelajaran tersebut.


3. Langkah berikutnya, mencari dasar teori yang berkaitan dengan variabel penelitian (metode pembelajaran pemecahan soal dan pemahaman konsep, serta prestasi belajar). Diupayakan adanya kerangka pemikiran yang mengarah pada simpulan bahwa metode pemecahan soal lebih baik dalam menanamkan pemahaman matematika dibandingkan dengan metode pemahaman konsep.

4. Selanjutnya, perlu dikemukakan hipotesisnya: "Metode pemecahan soal lebih baik dibandingkan dengan metode pemahaman konsep dalam meningkatkan prestasi belajar matematika". Hipotesis ini diperlukan untuk pedoman peneliti dalam merancang lebih lanjut.


5. Langkah awal bagian metode penelitian adalah melakukan pengukuran kepada dua kelompok yang siswanya mempunyai kesamaan kemampuan /IQ dalam matematika. Dari dua kelompok yang sudah mempunyai kesamaan itu dipilih secara acak atau random untuk menentukan mana kelompok kontrol dan mana yang akan ditugaskan sebagai kelompok eksperimen.

 
6. Menentukan siapa guru yang akan ditugasi untuk mengajar pada masing-masing kelompok tersebut. Bilamana telah mendapatkan guru yang memiliki kualitas yang sama, kemudian dipilih secara acak/random untuk ditugaskan ke kelompok eksperimen/kontrol. Kalau gurunya sama/satu orang, wajib menjaga obyektivitas dalam menerapkan kedua metode tersebut.


7. Persiapkan materi ajar dan rincian tindakan yang akan dilakukan pada metode yang telah ditetapkan untuk kedua kelompok tersebut.

Sesudah memahami langkah-langkah tersebut, kita perlu melihat kembali hal hal mendasar yang perlu diperhatikan sebelum eksperimen dilakukan. Kalau semua komponen tersebut sudah dipersiapkan dengan baik dan lengkap barulah mencoba menyusun rancangan/desain eksperimennya.

 

 

Metode Observasi dalam Psikologi Eksperimen

Untuk melakukan pengamatan dengan metode Observasi eksperimen, ada 4 syarat utama yang harus diberlangsungkan:

1.       mengidentifikasi pengaruh/effect lingkungan spesifik (specificworld /circumctances) sebagai perlakuan (treatment/sebab/variabel independen). Pengaruh ini harus terdefinisi secara operasional, agar terukur.

2.       Behavior variable sebagai akibat (variabel dependen). Variabel perilaku ini juga harus terdefinisi secara operasional, agar terukur dari segi validity dan reliability.


Hubungan sebab-akibat (cause and effect) haruslah didasari dengan kejelasan pengetahuan (structure of knowledge/thoughts) sebagai construct atau logical-atau conceptual validity dengan mana dibangun hipotesis (yang berupa scientific hyphothesis, berkenaan dengan predicted relationship) yang akan dijadikan landasan deduktif guna pelaksanaan uji proses induktif (dengan null hypothesis) lewat pengamatan eksperimental dengan bantuan tehnologi/instrumen tertentu. Ingat, hanya dengan construct validity baru bisa dilakukan operational definiiton.

Memang, sebelum membangun structure of knowledge/thoughts, perlu dicanangkan dulu apa masalahnya. Ada setidaknya 4 sumber inspirations untuk melakukan problem identification, yaitu:

 

1.     theory (sebagai a group of logically organized/deductively related laws)

2.     masalah-masalah dalam every day life misal bagaimana orangtua harus menangani kenakalan anak, practical issues yang membutuhkan solusi misal bagaimana menangani unjuk rasa karyawan, dan past research yang perlu digugat/dipertanyakan terus.

3.     Setelah jelas dan kokoh masalahnya (bahwa x berpengaruh y) , kemudian tentulah perlu didapati sebanyak mungkin informasi tentang masalah itu, spesifik tentang variabel independen dan variabel dependen, dan

4.     kemungkinan keterkaitannya sebagai sebab-akibat.
3. Variebel independen dan variable dependen itu diamati pada 2 kelompok yang berbeda: kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan maksud, untuk diperoleh hasil pengamatan, apakah ada atau tidak perbedaan pengaruh/effect perlakuan terhadap kelompok eksperimen, dan apakah terjamin, bahwa hanya perlakuan itu yang murni berpengaruh.

4. Itulah sebabnya, agar menjamin adanya the only effect, perlu dilakukan pengendalian/control terhadap extraneous variables, lalu disebutlah variabel-luaran ini sebagai controlled variables. Kalau tidak sampai terkendali, the only effect tidak akan terjadi, karena di dalamnya kemasukan pengaruh variabel-luaran, sehingga yang terjadi bias-pengaruh, kesesatan/errors, sehingga akibat pada variabel dependen tidak murni lagi.


Masalah control amat penting karena menjadi ciri utama sebuah pengamatan untuk bisa disebut ilmiah/scientific, (di samping 2 ciri utama lainnya: operational definition dan replication), karena pengendalian/control betul-betul berkenaan dengan masalah internal validity.


Mudahkah melakukan pengendalian terhadap extraneous variables yang juga disebut sebagai confounding variables? Memang tidak mudah, karena selalu ada variabel-luaran yang secara constant menyelinap, sehingga sulit dikendalikan. Tetapi ada juga variabel-luaran yang berpengaruh secara tidak constant (bersifat kompensatoris) , sehingga relatif bisa dikendalikan. Maka selalu harus diingat agar bisa bijaksana berilmu, bahwa betapa pun sempurnanya eksperimen psikologi, selalu di dalamnya memuat masalah akurasi, masalah presisi, karena sedikit banyak tentulah terjadi bias-pengaruh, tentulah memuat kesesatan. Karena itu, yang perlu diusahakan adalah, seberapa kecil kesesatan itu bisa dikendalikan. Namun setidaknya independent variablenya harus bisa manipulated. Ada 2 cara dasar manipulasi: instruction manipulation, event manipulation, dan bisa ditambah measured manipulation .


Ketika extraneous variables hadir secara tidak constant, maka biasa disebut ada 3 macam errors: kesesatan tipe Subyek (karena terjadi fluktuasi subject sampling), kesesatan Kelompok/Group (karena terjadi perbedaan dinamika kelompok), dan kesesatan tipe Replikasi (karena terjadi perubahan kondisi pada setiap replikasi).


Ada pun sumber penyebab kesesatan, yang perlu dibuntu demi terjaminnya internal validity, adalah histoy, maturation, instrumentation, statistical regression, selection, dan mortality.

Jangan Lupa Baca : Stop dreaming Start Action

 

 

Focus Group Discussion

 

Focus Group Discussion (FGD) merupakan bentuk penelitian kualitatif di mana sekelompok orang yang bertanya tentang sikap mereka terhadap produk, layanan, konsep, iklan, ide, atau kemasan. Pertanyaan diminta dalam grup pengaturan interaktif dimana peserta bebas untuk berbicara dengan anggota kelompok lainnya.

FGD adalah kelompok diskusi bukan wawancara atau obrolan. Ciri khas metode FGD yang tidak dimiliki oleh metode riset kualitaif lainnya (wawancara mendalam atau observasi) adalah interaksi! Hidup mati sebuah FGD terletak pada ciri ini. Tanpa interaksi sebuah FGD berubah wujud menjadi kelompok wawancara terfokus (FGI-Focus Group Interview). Hal ini terjadi apabila moderator cenderung selalu mengkonfirmasi setiap topik satu per satu kepada seluruh peserta FGD. Semua peserta FGD secara bergilir diminta responnya untuk setiap topik, sehingga tidak terjadi dinamika kelompok. Komunikasi hanya berlangsung antara moderator dengan informan A, informan A ke moderator, lalu moderator ke informan B, informan B ke moderator, dst. Yang seharusnya terjadi adalah moderator lebih banyak "diam" dan peserta FGD lebih banyak omong alias "cerewet". Kondisi idealnya, Informan A merespon topik yang dilemparkan moderator, disambar oleh informan B, disanggah oleh informan C, diklarifikasi oleh informan A, didukung oleh informan D, disanggah oleh informan E, dan akhirnya ditengahi oleh moderator kembali. Diskusi seperti itu sangat interaktif, hidup, dinamis!

 

 

 

 

Quasi Experiment

 

Pada penelitian eksperimen murni kelompok subjek penelitian ditentukan secara acak, sehingga akan diperoleh kesetaraan kelompok yang berada dalam batas-batas fluktuasi acak. Namun, dalam dunia pendidikan khususnya dalam pebelajaran, pelaksanaan penelitian tidak selalu memungkinkan untuk melakukan seleksi subjek secara acak, karena subjek secara alami telah terbentuk dalam satu kelompok utuh (naturally formed intact group), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Kelompok-kelompok ini juga sering kali jumlahnya sangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini kaidah-kaidah dalam penelitian eksperimen murni tidak dapat dipenuhi secara utuh, karena pengendalian variabel yang terkait subjek penelitian tidak dapat dilakukan sepenuhnya, sehingga penelitian harus dilakukan dengan menggunakan intact group. Penelitian seperti ini disebut sebagai penelitian kuasi eksperimen (eksperimen semu). Jadi penelitian kuasi eksperimen menggunakan seluruh subjek dalam kelompok belajar (intact group) untuk diberi perlakuan (treatment), bukan menggunakan subjek yang diambil secara acak.


Tidak adanya pengacakan dalam menentukan subjek penelitian memungkinkan untuk munculnya masalah-masalah yang terkait dengan validitas eksperimen, baik validitas internal maupun eksternal. Akibatnya, interpreting and generalizing hasil penelitian menjadi sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, limitasi hasil penelitian harus diidentifikasi secara jelas dan subjek penelitian perlu dideskripsikan. Agar Generalizability dari hasil penelitian dapat ditingkatkan, maka representativeness dari subjek harus diargumentasikan secara logis. Untuk validitas internal, peneliti harus berusaha membangun derajat ekuivalen (the degree of equivalence) diantara kelompok kelompok subjek dengan mempertimbangkan karakterkarakter atau variabel-variabel yang mungkin juga sangat berkaitan dengan variabel eksperimen.
Macam-Macam Desain Penelitian Kuasi Eksperimen adalah sebagai berikut :

Posttest Only, Non-Equivalent Control Group Design

Desian penelitian ini terdiri dari satu atau beberapa kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Kelompok yang digunakan merupakan intact group dan dependent variable diukur satu kali, yaitu setelah perlakuan eksperimen diberikan.

Contoh :

Efek pendekatan instruksional berbeda terhadap performance siswa kelas delapan dalam ujian praktek laboratorium sains.




Pretest-Posttest, Non-Equivalent Control Group Design


Desain penelitian ini tidak berbeda banyak dengan desain penelitian sebelumnya. Desain ini dibedakan dengan adanya pretest sebelum perlakuan diberikan. Karena adanya pretest, maka pada desain penelitian tingkat kesetaraan kelompok turut diperhitungkan. Pretest dalam desain penelitian ini juga dapat digunakan untuk pengontrolan secara statistik (statistical control) serta dapat digunakan untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap capaian skor (gain score)


Desain Time Series

Desain time series sebagai kuasi eksperimen memiliki ciri adanya pengukuran yang berulang-ulang, baik sebelum maupun sesudah perlakuan terhadap satu atau beberapa intact group,



Variasi dalam Time Series Design
Variasi terhadap Time Series Design dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah:

Single Subject Design
Pada umumnya penelitian pendidikan menggunakan subjek penelitian dalam bentuk kelompok (kelas). Penelitian seperti ini akan memberikan hasil yang menggambarkan keadaan satu atau beberapa kelompok, tidak menggambarkan keadaan individual dalam kelompok tersebut. Pada situasi eksperimen tertentu, perlakuan perlu diberikan hanya pada satu individu saja. Penelitian seperti ini disebut sebagai penelitian singlesubject. Penelitian ini sangat berguna bagi guru yang sedang melaksanakan penelitian terhadap individual siswa, misalnya dalam melakukan penelitian bimbingan dan konseling atau dalam melakukan rehabilitasi dan terapi fisik yang perlakuannya hanya diberikan pada satu individu saja.
Desain single subject umumnya menggunakan pengukuran yang berulang dan hanya mengimpleentasikan variabel bebas tunggal yang diharapkan dapat merubah hanya satu variabel terikat. Pengukuran variabel dilakukan pada kondisi normal yang disebut baseline.

 

 

Kontrol dalam metode Experimen

 

Pre-test pada penelitian experimental pada umumnya digunakan untuk membandingkan selisih hasil pre- & post-test dari kelompok intervensi dengan selisih hasil pre- & post-test dari kelompok kontrol. Peneliti menyimpulkan experiment berhasil jika ada perbedaan yang bermakna antara kedua selisih tersebut. Sebenarnya kesimpulan berdasarkan selisih hasil pre- & post-test hanya dapat dibuat untuk experiment satu kelompok karena pre-test (OPre) yang mendahului intervensi (X1) merupakan post-test dari intervensi sebelumnya (X0) terhadap kelompok subyek yang sama.

Kesimpulan yang dibuat melalui experiment satu kelompok penuh dengan bias. Jarak waktu antara OPre  dan  OPost menimbulkan beberapa penyulit penfasiran hasil penelitian, seperti perubahan-perubahan di luar dan di dalam subyek,  perubahan pada alat ukur dan cara pengukuran. Variabel-variabel confounding akibat perbedaan waktu  ini dapat dikendalikan dengan menghilangkan jarak waktu antara kedua test tersebut, yaitu dengan mengadakan pre- dan post-test pada waktu yang sama. Hal ini hanya bisa dilakukan jika ada kelompok subyek lain dan OPre  (= post-test dari kelompok kontrol) serta OPost (dari kelompok intervensi) dilakukan pada waktu yang sama. Untuk mencegah variabel-variabel confounding akibat kelompok kontrol yang tidak setara dengan kelompok intervensi subyek-subyek dari populasi (atau sampelnya) ditempatkan secara acak ke kedua kelompok tersebut.

Ada satu satu penyulit lain akibat perbedaan waktu yang tidak bisa dikendalikan dengan kelompok kontrol, yaitu penyulit yang diakibatkan karena subyek-subyek keluar dari experiment (e.g., binatang yang mati, manusia yang pindah atau enggan melanjutkan). Jika subyek-subyek ini adalah subyek-subyek yang memiliki skor yang extrem tinggi/rendah ketidak-ikutsertaan mereka pada post-test akan menggeser rerata skor. Peneliti yang mengantisipasi ancaman bias karena subyek gugur akan mengadakan pre-test untuk mengetahui jenis subyek yang gugur kelak.

Keberhasilan experiment disimpulkan berdasarkan selisih rerata skor post-test kedua kelompok, bukan berdasarkan perbedaan antara selisih rerata skor pre- & post-test kelompok intervensi dan selisih rerata skor pre- & post-test kelompok kontrol. Peran dari pre-test adalah untuk mengendalikan variabel penyulit yang ditimbulkan karena subyek keluar/gugur dari experiment. Jika peneliti ingin membatasi experiment pada subyek-subyek dengan (kisaran) skor tertentu ia dapat memasukkannya sebagai salah satu kriteria inklusi anggota populasi. Konsekuensinya adalah penyulit pada penafsiran hasil experiment untuk populasi yang lebih beragam.

Manipulasi

Bentuk-bentuk Variasi VB menurut Christensen (2001)

          Ada – tidak ada (Presence – absence)

          KK à tidak mendapat perlakuan

          KE à mendapat perlakuan

          Kuantitas variabel (amount of variable)

          KK à tidak mendapat perlakuan

          KE-1 à perlakuan 1

          KE-2 à perlakuan 2

          Perlakuan 1 dan perlakuan 2 berbeda kuantitasnya

          Jenis variabel (type of variable)

          KK à tidak mendapat perlakuan

          KE -1 à perlakuan 1

          KE – 2 à perlakuan 2

          Perlakuan 1 dan perlakuan 2 berbeda tipe/jenisnya

 

Cara-cara memanipulasi VB (Christensen, 2001)

          Manipulasi instruksi

Variasi VB diciptakan dengan memberikan suatu instruksi tertentu pada satu kelompok dan memberikan instruksi yang berbeda pada kelompok yang lain.

          Manipulasi kondisi

Variasi VB diciptakan dengan membuat kondisi yang berbeda pada setiap kelompok penelitian.

 

Variabel Terikat

         VT (dependent variable) adalah segala respon subjek penelitian yang diukur sebagai akibat dari variasi VB.

         Sebagaimana VB, dalam penelitian psikologi VT juga dioperasionalkan dengan cara mengamati indikator-indikator perilaku yang tampak.

Jenis-jenis VT dalam penelitian psikologi (Robinson, 1981)

          Respon fisiologis

         Semua pengukuran terhadap aktivitas organ tubuh

          Perilaku yang tampak

         Semua pengukuran yang melibatkan gerak motorik

          Laporan verbal

         VT yang diperoleh dari hasl wawancara, kuesioner, skala, ataupun observasi.

Cara pengukuran VT (Robinson, 1981)

          Frekuensi à menghitung jumlah respon yang mncul.

          Latensi à mengukur waktu yang dibutuhkan subjek untuk merespon.

          Durasi respons à mengukur lamanya waktu subjek dalam merespon.

          Amplitudo à mengukur kekuatan dari respon subjek.

          Menetapkan pilihan à mencatat pilihan subjek dari beberapa alternatif yang ada.

 

Variabel Sekunder

         VS atau variabel ekstraneus adalah VB lain yang dapat mempengaruhi VT.

         Karena VS juga dapat mempengaruhi VB, maka VS dalam penelitian eksperimental dikontrol dengan ketat.

 

Berdasarkan manipulasi VB dan situasi penelitian, tipe penelitian eksperimental dapat dibedakan atas:

1.      Controlled laboratory experiment

          Penelitian dilakukan pada  keadaan tidak alamiah karena  VS dikontrol dengan ketat.

2.      Controlled field experiment

          Penelitian dilakukan pada keadaan alamiah (sewajarnya) tanpa adanya kontrol ketat terhadap VS.

           

Desain penelitian umumnya ditentukan setelah tipe penelitian dipilih.

Desain penelitian adalah rencana atau strategi yang digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian (Christensen, 2001).

Secara umum, desain penelitian eksperimental dibedakan atas:

3.      Between-subject design (desain antar-kelompok)

          Disebut juga sebagai pendekatan eksperimental N-besar (large-N).

          Pengaruh VB terhadap VT diketahui dari perbedaan skor VT antara kelompok-kelompok subjek yang diberi perlakuan berbeda.

4.      Within-subject design (desain dalam-kelompok)

          Disebut juga sebagai pendekatan eksperimental N-kecil (small-N).

          Hanya menggunakan sekelompok subjek dan setiap subjek diberikan beberapa perlakuan VB yang berbeda.

 

Desain/Rancangan Experiment

Apakah desain eksperimen itu? Desain eksperimen adalah suatu rancangan percobaan dengan setiap langkah tindakan yang terdefinisikan, sehingga informasi yang berhubungan dengan atau diperlukan untuk persoalan yang akan diteliti dapat dikumpulkan secara faktual. Dengan kata lain, desain sebuah eksperimen merupakan langka-langkah lengkap yang perlu diambil jauh sebelum eksperimen dilakukan agar data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga akan membawa ke analisis obyektif dan kesimpulan yang berlaku dan tepat menjawab persoalan yang dibahas.

Sebagai contoh, untuk meneliti pengaruh metode pemecahan soal terhadap prestasi belajar matematika, perlu dipersiapkan rancangan/proposal penelitian. Untuk itu, perlu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut:


a. Persoalan apa yang menjadi pusat perhatian peneliti sehingga harus melakukan penelitian dengan penelitian eksperimen?

b. Bagaimana mempersiapkan kelompok eksperimen dan kontrol?

c. Karakteristik metode pembelajaran apa yang akan dibandingkan?

d. Variabel tergantung (dependent) apa yang menjadi pusat perhatian peneliti dan apa instrumen pengukurnya?

e. Apa teori dasar yang harus dipersiapkan?

f. Berapa lama eksperimen akan dilakukan?

g.Metode analisis apa yang tepat digunakan?

h. Bagaimana mengurangi kesesatan pada kedua kelompok?


Pertanyaan di atas memberi gambaran bahwa suatu desain untuk mengerjakan suatu eksperimen perlu dipikirkan selengkap dan serinci mungkin, agar dapat dipakai pegangan dalam pelaksanaannya.

Dalam penelitian eksperimen kita tidak terkonsentrasi pada satu jenis desain/ pola eksperimen saja. Ada tiga desain yang disajikan, guru dapat memilih alternatif mana yang paling tepat untuk mencoba suatu tindakan tertentu bilamana kondisi siawa/kelas/sekolah mengalami masalah. Setiap pola/desain eksperimen mempunyai kelemahan dan kebaikannya, namun peneliti harus mampu memilih desain eksperimen yang dapat dilaksanakan dan paling minim mengandung resiko kelemahan.
Sebenarnya lebih dari 8 (delapan) desain eksperimen yang dapat kita pelajari, namun berikut ini hanya disampaikan beberapa desain eksperimen yang sering digunakan guru dalam memperbaiki hasil belajar siswa, yaitu:
1) Treatments by Levels Designs,

2) Treatment by Matched Groups Designs, dan

3) Matched Subjects Designs.


Untuk mendapatkan gambaran yang agak jelas berikut ini diuraikan secara singkat ketiga desain eksperimen tersebut.

1. Treatment by Levels Designs.

Desain ini memberikan dasar-dasar pengamatan stratifikasi yang lebih baik. Kita sadari bahwa pada setiap kelompok/kelas selalu dijumpai adanya siswa yang masuk kelompok tinggi dan rendah, ada siswa-siswa yang pandai dan kurang pandai, maka melalui desain ini stratifikasi itu perlu mendapat perhatian dalam menentukan kelompok kontrol dan eksperimen. Kondisi semacam ini dalam pelaksanaan suatu eksperimen perlu diperhatikan agar tidak banyak mengganggu hasil akhir eksperimen.
Untuk itu, dalam persiapan eksperimen, peneliti harus menentukan dua kelompok yang di dalamnya terdistribusi siswa yang berkemampuan yang seimbang. Walupun demikian bukan berarti bahwa desain ini sudah terbebas dari kesesatan, masih juga dapat terjadi bilamana tidak memperhatikan pelaksana/guru pelaku tindakan baik di kelompok eksperimen atau di kelompok kontrol. Pengulangan juga terjadi kalau tidak diperhatikan kemungkinan pengulangan metode pada kedua kelompok itu. Di samping itu, juga perlu diperhatikan variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap hasil eksperimen, maka persiapan perlu dilakukan sebaik-baiknya.

2. Treatment by Matched Group Designs

Desain eksperimen ini merupakan desain yang paling banyak digunakan para guru dalam menguji keampuhan suatu metode pembelajaran dibandingkan metode lain. Data untuk persiapan dengan desain eksperimen ini dapat diperoleh dari dokumen atau memberikan pretest kepada siswa yang akan dijadikan subyek penelitian. Persoalan pokok yang perlu dipikirkan lebih awal pada matching group adalah faktor-faktor yang harus diseimbangkan agar kelompok-kelompok yang mengikuti eksperimen dapat berjalan pada kondisi eksperimental tanpa dipengaruhi faktor ekstrane. Prinsipnya semua faktor yang dipandang dapat mempengaruhi/mengotori pengaruh tindakan/ treatment harus di-matched/ dijodohkan sebelum tindakan atau eksperimen dilakukan. Misalnya prestasi belajar dan kecerdasan /inteligensi dipandang akan berpengaruh pada hasil eksperimen, maka kedua faktor itu harus di-matched.
Cara melakukan matching dapat dilakukan dengan menguji perbedaan kelompok-kelompok yang dicoba akan menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan analisis t-test. Bilamana ada perbedaan antara kedua kelompok itu eksperimen tidak dapat diteruskan, berarti kedua kelompok itu harus menunjukkan adanya kesamaan.

3. Matched Subjects Designs

Desain ini berlandaskan pada adanya matched subjects pada dua kelompok yang dipersiapkan untuk eksperimen. Pada matched groups, yang dipakai dasar adalah menjodohkan kedua kelompok itu dengan perhitungan seluruh subyek yang ada pada tiap kelompok, sedang matched subjects yang dijodohkan tiap-tiap subyek pada kelompok yang satu dengan subyek pada kelompok yang lain. Pada matched subjects dapat dijodohkan dengan sistem: a) nominal pairing, b) ordinal pairing, atau c) combined pairing. Pada Nominal pairing yang dipasang-pasangkan seperti jenis kelamin, jenis pekerjaan orang tua, sedang ordinal pairing yang dipasang-pasangkan adalah intelegensi, prestasi belajar, atau tingkat pendidikan. Sedangkan pada combined pairing, yang dipasang-pasangkan adalah kombinasi antara nominal dan ordinal pairing. Pada pelaksanaannya sangat tergantung pada pelaku eksperimen, sistem apa yang akan dipakai.
Desain ini mempunyai kepekaan (sensitivitas) yang lebih tinggi dibandingkan dengan desain lainnya dalam mendeteksi perbedaan pengaruh tindakan/treatment, apalagi kalau mampu memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mencemari hasil eksperimen.

Kegiatan paling akhir dan sering tertunda-tunda serta menjemukan adalah menyusun laporan hasil penelitian. Agar tidak tertunda dan tetap segar untuk menyusun laporan dapat dimulai sejak peneliti melaksanakan kegiatan eksperimennya. Apa yang harus ditulis awal, penelitiannya saja baru dimulai? Kalau kita memperhatikan materi yang akan ditulis pada laporan hasil penelitian itu, harus diingat rancangan/proposal penelitian yang sudah disusun sejak awal.

Rancangan penelitian yang sudah lengkap dan terstruktur secara sistematis, akan memberikan bahan dasar laporan yang sangat berharga dan mengurangi beban waktu penyusunan laporan. Tiga bab dari lima bab pada laporan sudah ada di dalam rancangan/proposal penelitian, walaupun masih perlu dipertajam, disempurnakan dan dilengkapi sesuai dengan apa yang akan dilaksanakan peneliti.

Oleh karena itu, sambil melaksanakan eksperimen guru/peneliti dapat mengawali menyusun laporan pada bab pendahuluan, kajian teori dan pustaka, serta bab metode penelitiannya.



Bab atau bagian baru dan lebih membutuhkan pemikiran peneliti dan belum ada di proposal adalah Bab IV yang menyajikan hasil penelitian dan pembahasan. Bab ini baru dapat ditulis kalau kegiatan pengumpulan data dan kegiatan eksperimennya sudah selesai. Semua data dari proses sampai hasil akhir eksperimen harus disajikan pada bagian ini. Cara menyajikan dapat dalam bentuk tabel, grafik, skema atau bagan, dan bertujuan untuk mempermudah pembaca memahmi makna yang disampaikan peneliti. Hasil analisis data didasarkan pada hasil yang diperoleh dari tes materi pelajaran serta angket pada akhir pelajaran/eksperimen.
Untuk menyusun laporan penelitian, guru diharapkan memahami sistematika penulisan yang sudah ditetapkan, seperti yang terlampir pada bagian akhir dari hand-out ini. Pada prinsipnya sistematika pembahasan mengandung tiga bagian pokok yaitu, bagian awal, bagian inti dan bagian pendukung. Agar karya ilmiah jenis penelitian ini memenuhi syarat untuk dinilai angka kreditnya, diwajibkan ada pengesahan dari kepala sekolah dan guru pengusul/peneliti.

 

Integrasi rancangan penelitian dalam Pekerjaan Psikolog (Etika)

 

Secara umum jenis penelitian didasarkan pada cara pandang Etika Penelitian dan Pola Pikir yang melandasi suatu model konseptual.
Jenis penelitian sesuai dengan Etika Penelitian terdini dari 3 (tiga) macam yaitu:

penelitian terapetik,

non-terapetik, dan

pada subyek khusus.

 

Penelitian terapetik adalah penelitian yang dilakukan pada pasien dan ditujukan untuk pencapaian penyembuhan, baik dengan memberikan obat maupun dengan cara lain, seperti pembedahan atau radiasi. Dalam hal ini penelitian tersebut dapat berupa penelitian dasar (basic research) maupun penelitian terapan (applied research). Pada umumnya institusi pendidikan merupakan pusat penelitian dasar, sedangkan berbagai lembaga pemerintahan, seperi LIPI, Dewan Ristek, dan lainnya melaksanakan kegiatan penelitian terapan. Contoh penelitian tentang adanya efek metabolik (hipoglikemik dan hipolipidemik) buncis dan bawang merah, akhirnya memberikan masukan untuk penelitian dasar, yaitu untuk mengetahui bahan mumi dan mekanisme adanya metabolik buncis dan bawang merah tersebut.

 


Penelitian non-terapetik adalah penelitian pada pasien serta tidak berkaitan langsung dengan pengobatan, meskipun akhirnya hasil tersebut akan memberikan manfaat pada terapi. Penelitian ini bertujuan mencari data kausal maupun konseptual yang dapat menjelaskan terjadinya suatu sindroma.

 

Penelitian pada subyek khusus atau tertentu, pada umumnya adalah penelitian yang diterapkan pada subyek yang memiliki ketergantungan pada orang lain (dependent-person), misalnya pada:

a. bayi atau anak di bawah umur,

b. wanita hamil atau menyusui,

c. pasien dengan gangguan jiwa atau keterbelakangan mental,

d.kelompok sosial di bawah pengaruh pimpinan atau penguasa, misalnya: mahasiswa kedokteran, perawat, pegawai rumah sakit, pegawai farmasi, ketentaraan, penghuni lembaga pemasyarakatan, dan pasien penyakit di daerah endemik.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar